Menggapai Puncak Gunung Rinjani



Mendaki gunung dengan trek berpasir memang memiliki kesulitan sendiri. Seperti halnya ketika saya mendaki Merapi dan Semeru yang memang faktanya bisa sangat memperlambat laju kita ketika melangkahkan kaki. Ya mau bagaimana lagi, naik 3 langkah merosot 2 langkah; naik 5 langkah mesorot 3 langkah. Kesel sendiri saya dibuatnya. Hal tersebut terjadi juga pada saya ketika melakukan summit attack menuju puncak Rinjani.

Cerita sebelumnya dari Pulau Jawa, Basecamp dan sampai Pelawangan Sembalun bisa dibaca di postingan saya sebelumnya. Klik di sini

Karena kami kelelahan akibat perjalanan menuju Pelawangan yang sempat bikin menyesal, saya pribadi pun memutuskan untuk tidur lebih cepat karena esok dini harinya kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak impian saya yaitu Puncak Rinjani. Waahhh nggak sabar, nih. Setelah semua ritual malam, yang berisi makan, minum kopi panas, sibuk menghangatkan diri selesai. Saya langsung tidur tanpa lupa set alarm di HP saya pukul 12 tengah malam. Dengan rencana sebelum kami berangkat summit attack, setidaknya kami memiliki waktu untuk mengumpulkan nyawa dan bikin sesuatu yang anget-anget dulu.

*krincing krincing krincing* Apa ini? Ternyata HP saya berbunyi dibersamai dengan getaran kecil yang membuat badan saya geli-geli enak, saya kira tukang sate, kalau ada saya mau beliii. Eh tapi ngeri juga sih kalau ada. Haha. Sudah jam 12 ternyata! Saya bergegas bangun dengan niat mengumpulkan nyawa terlebih dahulu, sambil membangunkan teman-teman yang lain. Ternyata cuaca pada malam itu sangat bersahabat. Bulan sedang terang-terangnya, angin sedang tenang-tenangnya, dan udara tidak sedingin yang saya bayangkan sebelumnya. 

Setelah semua siap lengkap dengan peralatan, kami awali dengan doa terlebih dahulu dipimpin mas Indra. Berdoa menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing, berdoa disilakan…..   aamiin…

Pelawangan dipotret di waktu yang berbeda


Kami lantas berjalan. Tas carrier kami tinggal, hanya bawa daypack yang berisi makanan ringan dan minuman untuk mengganjal perut jika mulai lapar. Oh ya, alasan mengapa pendaki sering kali meninggalkan carriernya adalah mostly karena keselamatan. Apalagi treknya berpasir, karena faktor medan yang miring sekali dan dikhawatirkan tas carrier justru akan mempersulit keadaan. Tapi barang-barang berharga tetap kami bawa, dong.

Ngomong-ngomong untuk berjalan menuju puncak Rinjani ini diperlukan waktu dari 4-6 jam perjalanan. Bergantung masing-masing individu ya. Karena saya lebih sering jalan keong daripada jalan cepet yaaa bisa diperkirakan waktu saya untuk sampai puncak mungkin bakal molooorrr. Dan sepertinya kami ini cukup kesiangan untukk memulai perjalanan, padahal masih jam 1 an lebih, atau malah jam 2 yaaa? Lupa saya hahaha.  Kalau tidak salah, Pelawangan Sembalun ini tingginya sekitar 2600an MDPL, dan Puncak Rinjani adalah 3726 MDPL. Jadi kita bakal naik sekitar 1100an meter jika dihitung vertikal, weleh weleeehhh bakal berapa jam neehh.

Menurut saya pribadi, sebenenarnya trek summit attack Rinjani ini tidak semiring dan tidak semenyebalkan Semeru, sih. Lebih melelahkan Semeru karena memang kemiringannya bikin kita mengelus dada dan pasirnya lebih dalam jika diinjak. Rinjani memiliki ciri khas treknya dengan jalan pasir berkerikil kecil dan tidak terlalu miring. Ya, tapi tetap saja yang namanya berpasir itu ngeselin.

   

Mba Putri dan Mas Indra


Mentari muncul ketika kami sampai pada trek menuju puncak yang datar cukup lama, yang pernah ke Rinjani pasti tahu, nih. Sembari mengabadikan foto matahari terbit, saya terpesona akan Segara Anak yang ternyata lebih menawan dilihat ketika langit sedang merona. “Ini keren banget, sih.” Pikir saya. Tanpa berlama-lama kami melanjutkan perjalanan, karena takut kesiangan. Di tengah jalan berpasir tampak mba Putri sudah sangat kelelahan, tampaknya sudah tidak kuat untuk melanjutkan ke puncak. Mas Indra selalu mendampingi, sebenarnya Mas Indra ini seorang guide atau porter yang berbasis di Sumatera sana. Walaupun saya rasa tenaga Mas Indra masih sisa-sisa, tapi Mas Indra juga memutuskan untuk tidak melanjutkan karena memikirkan kondisi Mba Putri waktu itu. Keren banget nih Mas Indra, bisa dijadikan contoh nih buat teman-teman pendaki. Kami tinggal berempat. Sudah cukup jauh melangkah ternyata puncak masih sangat jauh juga. “Semangat mas! Masih lumayan jauh.” Ucap seorang pendaki yang sudah mulai turun dari puncak. Untuk saat ini saya percaya dengan kata mas-mas tadi. Biasanya pendaki yang bilang “Semangat mas, udah deket kok!” kebanyakan Cuma prank, padahal masih jauh. Ya tapi tidak semua seperti itu kok.



Sudah sampai tanjakan terakhir yang paling panjang, Mas Riky dan Mas Eko tampak sudah tidak kuat juga. Waduh, saya dan Habin gimana ya. Pada awalnya Habin tampak sudah tidak bergairah lagi untuk lanjut, tetapi saya mengompori agar semangatnya terbakar. Kami pun memutuskan untuk lanjut. Butuh sekitar 1 jam akhirnya kami sampai pada sebuah tikungan terakhir. Sedikit lagi!



Kaki sudah gemetar; napas tersengal-sengal; semangat sudah sedikit padam, kami sampai pada ujung dataran yang ternyata puncak. Kami berdua akhirnya sampai di Puncak Rinjani. Yeeeayyy! Akhirnyaaaa setelah semua perjuangan ini kami berhasil menginjakkan kaki di tanah tertinggi kepulauan Nusa Tenggara dan Bali. Saya kemudian sujud syukur atas pencapaian kecil ini. Untuk pertama kalinya saya benar-benar terharu ketika mendaki gunung. Luar biasa memang Rinjani ini, perjalanan yang menurut saya sangat emosional. Seneng banget saya akhirnya bisa mewujudkan mimpi saya ini.

Saya; dengan rambut menggimbal penuh pasir

Habin in action

Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk menikmati suasana dan foto-foto. Karena dirasa kabut mulai naik, kami berdua turun. Merupakan hal menyenangkan ketika turun di trek berpasir karena kami turun mrosot seluncuran di pasir dan hanya memakan waktu 2 jam untuk sampai camp. Sangat kontras ya jika dibandingkan ketika naik yang waktu itu memakan waktu sekitar 7 jam. Hahaha. Teman-teman sudah di camp, pada istirahat karena efek summit attack yang sangat melelahkan.

Sebenarnya, kami berencana turun menuju danau untuk menikmati malam terakhir di Rinjani. Tapiiiii, nah ini nih hal yang saya bahas pada postingan pertama saya, sesuatu yang sayang untuk dilewatkan. Kami memutuskan untuk langsung turun menuju basecamp, mengingat tenaga teman-teman yang sudah terkuras, jadwal saya dan Habin yang sudah limit harus segera menuntaskan tugas harian yang sudah deadline. Dan melihat trek untuk ke danau dan trek menuju Senaru (basecamp yang kami tuju untuk turun) ternyata lumayan berat juga. Karena dari danau kita harus naik sekitar 3.5 jam untuk sampai di Pelawangan Senaru. Yaaahhh tapi yasudah, tidak apa-apa. Kami semua harus belajar menahan ego kami masing-masing.
  


Kami lantas menikmati hari terakhir kami di Rinjani. Ternyata hari kami di Rinjani disambut dengan pemandangan yang indaaahhh banget. Kami beruntung bisa menikmati milky way pada malam itu, bulan tampak memukau sangat terang. Wahhhh luar biasaaa.

Mas Rikki in frame


Keesokan harinya kami makan, beres-beres dan repacking untuk segera turun ke basecamp mengingat jalannya yang jauuhhhh. Waktu itu kami mulai turun pukul 11.00.

Menu di hari terakhir

full team


Singkat cerita kami semua sampai di basecamp dengan selamat pada waktu maghrib menjelang isya. Jika dihitung, berarti waktu untuk turun memakan waktu sekitar 6 jam. Haha gapapa tapi Alhamdulillah kelar juga, nih. Saya bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman baru yang hebat di sepanjang perjalanan.

Selalu ada jalan berkelok untuk sesuatu yang elok. Rinjani, terima kasih banyak atas semua pengalaman hidup yang kau ajarkan. Tunggu aku kembali untuk membayar hutang yang belum kuselesaikan. Tuhan, terima kasih atas konspirasi alam semesta yang indah ini.



Note: selalu bawa turun sampah yang kau hasilkan di atas gunung. Agar kelak, kita bisa menikmati sisi terbaik Rinjani tanpa ada hal yang mengotorinya.
Salam lestari. :)

Baca cerita Mount Rinjani Series: Klik di sini




Follow me on Instagram: @wi.sepi

0 Response to "Menggapai Puncak Gunung Rinjani"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel