Bertahan Dalam Suhu Minus Ranu Kumbolo






Mungkin sebagian orang tidak asing dengan cuplikan lirik lagu milik Dewa 19 yang berjudul Mahameru. Sebenarnya lagu ini sudah lama sekali diciptakan. Bagaimana tidak, lagu ini dipopulerkan ketika Ari Lasso masih menjadi vokalisnya. Itu artinya sudah bertahun-tahun yang lalu ya. Mungkin sepertinya memang Ari Lasso dulunya merupakan seorang pendaki, karena pada suatu waktu saya melihat foto jadul Ari Lasso bersama Piyu Padi dan beberapa temannya sedang menggendong carrier. Keren ya, pantas saja lagu tersebut sangat pas dihayati saat kita mendaki gunung Semeru. Terdengar pendaki banget deh pokoknya.

Tidak disangka setelah berlama-lama menunggu kesempatan untuk Mendaki Semeru datang juga, butuh waktu hampir satu tahun lamanya saat pertama kali saya mempunyai rencana ingin mendaki gunung Semeru sebelum rencana tersebut benar-benar terealisasikan. Awalnya sih saya dan salah satu teman saya yang bernama Andri merencanakan pendakian ke Semeru pada bulan Desember tahun 2014, tapi karena terbatasnya info dan tidak adanya ajakan seorang teman kami memutuskan mendaki gunung Lawu saja sebagai ‘pelarian’ karena tidak jadi mendaki Semeru. Ceritanya bisa dilihat di postingan saya sebelumnya yaaa.

Mendaki Semeru pada kesempatan kali ini bukan berarti karena ter ‘bius’ oleh salah satu film yang melejit pada tahun 2012 lalu, melainkan karena kami ingin merasakan bagaimana sih sensasinya berdiri di atas puncak Semeru yang notabene adalah tanah tertinggi pulau Jawa. Semeru juga merupakan gunung api tertinggi ketiga di Indonesia setelah gunung Kerinci di Sumatera Barat ( 3805 MDPL ) dan gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat ( 3726MDPL ). Nah Semeru ini memiliki ketinggian 3676 MDPL dengan puncaknya yang bernama Mahameru.

Sampai pada akhirnya ada ajakan dari teman yang saya kenal ketika saya mendaki Lawu. Awalnya sih kami bingung menentukan hari yang tepat, dan akhirnya kami memutuskan tanggal 22 juli sebagai hari kami mulai tracking. Selain hari itu adalah long weekend, hari itu merupakan hari dimana kami lagi punya banyak uang karena mendapat THR, haha.

21 Juli 2015


Singkat cerita kami berangkat dari Magelang pukul 9 pagi. Rombongan dari Magelang sebenarnya ada 6 orang. Tapi karena ada sesuatu hal sangat penting, salah satu teman saya menyatakan cancel 1 hari sebelum hari keberangkatan. Sayang sebenarnya, tapi tak apa kawan Semeru akan selalu menunggu kok. Agar lebih enak saya akan memperkenalkan beberapa teman saya dari Magelang,



-          Habin : Teman saya dari SD, tetangga rumah juga. Dan yang saya heran dia enggak pernah makan nasi semenjak dia masih kecil. Kok bisa ya?

-          Fajar Ubay : Teman saya SMP, teman ngeband juga. Dia seorang drummer, dan dia adalah adik kandung dari Ubay finalis Indonesian Idol. Asoooy ya? haha

-          Andri : Teman saya satu jurusan di SMK Negeri 1 Magelang, partner ndaki juga.

-          Dwiki : Teman satu almamater juga, dulunya musuh Andri tapi bisa deket karena dulu mulai ndaki bareng di Sumbing. Hahaha…

Kami berangkat dari Magelang menggunakan bus. Dari Magelang turun di terminal Giwangan Yogyakarta, kemudian kami lanjut menuju Solo terlebih dahulu untuk ketemu dengan mas WIku di terminal Tirtonadi. Kasian karena dia sendirian. Oh iya mas Wiku ini kenalan saya sewaktu saya mendaki Merbabu bulan Februari lalu. Ndaki mah asik ya, banyak orang-orang baru yang bisa jadi teman kita. Asoy deh pokoknya

(kiri ke kanan) Habin, mas Wiku, Fajar, entah tu siapa, Andri, Dwiki, Saya


Nah setelah Solo kami langsung saja cus menuju terminal Bungurasih Surabaya karena untuk di Surabaya terminalnya buka 24 jam. Akhirnya setelah 8 jam kami tiba di Surabaya, mengisi perut terlebih dahulu  sebelum melanjutkan perjalanan menuju Arjosari Malang. Singkat cerita kami bertemu dengan rombongan Ngawi yang ternyata mereka sudah semalaman menunggu kami dan tidur di depan toko dekat terminal Arjosari. Haha maaf, soalnya waktunya molor jadi kami terlambat. Untuk yang dari Ngawi nama anggotanya adalah sebagai berikut

-          Mas Nophix : Dia anak band, anak pop punk. Mulai kenal dengan dia waktu kami mendaki Lawu.
-          Mas Davig : dialah yang paling dewasa dari rombongan Ngawi. Anak metal kayaknya haha
-          Mas Aji : si pencair suasana tanpa dia mungkin pendakian bakalan garing haha
-          Mas Romy a.k.a Werok : soulmate nya mas Aji buat guyonan, yaaa begitulah. Pertama ketemu juga ketika mendaki Lawu.
-          Mas Rendra : akrap disapa pak guru saat pendakian kali ini. Kenal saat dulu mampir ke rumah saya sehabis naik Merbabu.
-     Mas Nuki : dilihat dari badannya sepertinya dia orang yang memiliki tenaga ekstra..

Ternyata ketambahan lagi 2 cewek temennya mas Aji

-          Windi : selama pendakian yang selalu nempel sama pak guru haha
-          Rosa : orangnya pendiam, tapi strong coy





22 Juli 2015


Waktu itu kami sampai di Arjosari sekitar pukul 02.00 dini hari. Sebuah accident terjadi pada kami, ketika turun dari bus waktu itu kami memang sedang dalam keadaan ngantuk dan lelah akibat perjalanan seharian penuh dari Magelang. Carrier dan manusianya sudah turun semua dan tiba-tiba Dwiki teringat bahwa tas kecilnya masih tertinggal di dalam bus, padahal posisinya bus tersebut sudah mulai keluar dari terminal. Dengan spontan dia mengejar bus tersebut, tetapi sayang bus tersebut sudah terlanjur pergi. Ya walaupun isinya hanya sebagian logistik kami, tapi jumlahnya lumayan banyak. Yasudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Akan kami jadikan kejadian ini sebagai pelajaran agar kami tidak tledor ketika hendak bepergian. Untung saja bukti transfer kuota pendakian masih tersimpan di dompet.

Dari Arjosari kami menuju Tumpang menggunakan angkot warna putih yang bertuliskan TA. Artinya Tumpang-Arjosari. Nah, mulai dari Tumpang menuju Ranupani ini kita harus menggunakan jeep karena memang trek untuk menuju Ranupani agak ngeri. Tarif jeep dari Tumpang-Ranupani PP berkisar 1,3 juta. Lumayan wow ya? Tapi untungnya kami sudah mem-booking jeep dari jauh-jauh hari jadi kita gausah dipusingkan lagi untuk mencari jeep.


Setelah beberapa lama istirahat kami berangkat menuju Ranupani, Ranupani merupakan titik awal pendakian gunung Semeru. Terombang ambing di bak jeep selama hampir 2 jam, tapi pemandangan sepanjang jalan keren kok jadi tidak terlalu terasa lama. Dulunya sih katanya kita bisa turun di depan pos ijin Ranupani  ,tetapi peraturan sekarang kendaraan besar hanya boleh sampai lapangan saja. Tidak apa-apa, lumayan buat pemanasan.

dibalik pegunungan ini terdapat 2 buah gunung yang sudah sangat terkenal yaitu gn.Bromo dan gn.Batok


diatas jeep, asoooy haha


Sampai di Ranupani kami langsung mengurus simaksi ( surat izin masuk wilayah konservasi ) yang sudah kami booking 1 bulan sebelum hari keberangkatan. Oh iya, untuk beberapa waktu terakhir ini Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memberlakukan sistem booking online untuk para calon pendaki Semeru. Untuk online kuota per harinya 300 orang dan 200 untuk on the spot atau datang langsung ke Ranupani. Tapi agar tidak kehabisan mendingan kita booking online saja.

Sebelum berangkat mendaki kami menjalani briffing terlebih dahulu untuk diberi info tentang jalur pendakian Semeru dan dimana saja kita bisa mendirikan tenda. Setelah re-packing kami mulai tracking. Trek Semeru ini bisa dikatakan banyak landainya daripada tanjakannya.  Rata-rata landai malah.

sebuah danau di Ranupani

Ranupani – Landengan Dowo : 45 menit


Setelah berjalan sekian lama kami sampai di Ledengan Dowo ditandai dengan plang bertuliskan Landengan Dowo. Beristirahat terlebih dahulu sambil berfoto ria 



                Landengan Dowo – Pos 1 : 30 menit

Sampai di pos 1 ternyata sudah banyak sekali pendaki yang beristirahat disana, dan yang  saya kagetkan adalah ada orang jualan disana. Wow, tapi ya pasti sudah bisa ditebak lah harga yang ditawarkan berapa. Jika melihat orang jualan di gunung jadi teringat gunung Lawu yang memang menyediakan warung disana. Dan yang berkesan adalah harganya tidak terlalu mahal, pas lah di kantong.  Di pos 1 ini terdapat sebuah shelter

                Pos 1 – Pos 2 : 40 menit

Trek untuk sampai di pos 2 ini masih datar datar saja. Ya tetapi yang namanya datar di gunung  ya pasti ada sedikit menanjaknya, tetapi tidak terlalu terasa saja jadi kami anggap datar. Di pos 2 ini juga terdapat sebuah shelter yang masih terawat.


               

Pos 2 – Watu Rejeng : 20 menit

Saya kira awalnya setelah melewati pos 2 langsung bertemu dengan pos 3, ternyata masih  harus melewati Watu Rejeng terlebih dahulu. Tapi yasudah kita jalani saja dengan berjalan santai agar tidak terlalu lelah karena masih 3 hari lagi kami mendaki.

               




Watu Rejeng – Pos 3 : 1 jam

Nah, mulai Watu Rejeng ini treknya mulai kami rasa lebih berat. Kami harus melewati tanah bekas longsoran yang jika tidak berhati-hati bisa saja kami terpeleset ke bawah. Di pos 3 ini juga terdapat sebuah shelter.


                Pos 3 – Pos 4 : 1 jam

       “Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir seperti lirik lagu Dewa 19, hal yang saya rasakan sama. Badan mulai lelah, punggung mulai pegal karena saya rasa inilah beban carrier terberat yang selama ini pernah saya pikul. Bertanya-tanya kapan sih kita sampai di Ranukumbolo kok kayaknya lama banget. Untuk sampai di pos 4 ini kita harus mengelilingi beberapa bukit terlebih dahulu, dan sebelum bukit terakhir kita harus melewati sebuah jembatan berwarna merah yang cukup eksotis. Jarang-jarang lho bisa menemukan jembatan yang bener-bener jembatan di gunung. Tidak seperti di Merbabu yang dinamai Jembatan Setan yang pada awalnya saya kira benar-benar jembatan tetapi pada kenyataannya harus merayap melewati tebing dan yang bikin parno adalah bawahnya langsung jurang. Pantas dinamai seperti itu hufttt. Oh iya, pos 4 ini berada di atas Ranukumbolo persis. Dari kejauhan sudah tampak sebuah genangan air yang sangat luas. Dari situ kami mempercepat langkah kami agar bisa cepat beristirahat.


Pos 4 – Ranukumbolo : hanya beberapa menit, tidak terlalu lama.

Seperti yang saya bilang baru saja, Ranukumbolo ada dibawah pos 4 persis. Maka dari itu estimasi waktunya tidak saya catat di note book saya, bukan note book adeknya laptop lho ya namun benar-benar note book atau buku catatan yang saya gunakan untuk menulis estimasi waktu dari pos ke pos. Tanpa berlama-lama kami mencari tempat yang agak luas yang bisa dijadikan tempat kami nge-camp. Dan yang pasti langsung menghadap ke Ranukumbolo, katanya sih jika matahari terbit munculnya dari tengah-tengah antara 2 bukit di Ranukumbolo.

Setelah tenda berdiri kami memasak makanan untuk mengganjal perut, ya pastilah kami sangat lelah setelah berjalan seharian di tengah hutan. Seperti yang orang lain bilang, Ranukumbolo merupakan surganya gunung Semeru. Panorama yang disajikan memang sangat memanjakan mata. Sambil menunggu malam tiba kami mengarahkan lensa kamera dan lensa kamera HP ke tempat yang kami rasa sangat indah. Dan pada malamnya kami sangat merasa takjub karena waktu itu Milky Way nya sangat terlihat jelas. Subhanallah, indah sekali..Dan berikut foto Milky Way yang saya maksud


feel di foto kurang dapet

kopi cah, bintange uapik


Setelah saya rasa hari mulai malam dan dingin saya putuskan untuk tidur terlebih dahulu karena keesokan harinya kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju Kalimati.

                23 Juli 2015

Pagi itu kami tidak menargetkan jam berapa kita harus bangun, karena tidak seperti biasanya yang malam pertama kita disibukan dengan alarm agar bisa bangun pagi buta untuk persiapan summit attack. Suhu di Ranukumbolo pagi sangat dingin sekali, katanya sih biasanya jika musim kemarau seperti ini suhu di Ranukumbolo biasa mencapai -10 derajat celcius. Wow, padahal ketinggiannya masih 2400 MDPL, gak kebayang bagaimana suhu di puncak nanti. Zipper tenda mulai kami buka, zreeettt ternyata cuacanya cerah dan matahari tampak mulai muncul dari singgasananya. Subhanallah indah sekali Semeru itu. Tanpa berpikir panjang langsung saja saya keluar dan mengabadikan panorama pada pagi itu..




jadi es, kebayang kan dinginnya kaya gimana?
   
  
itu tu Tanjakan Cinta


Puas berfoto-foto langsung saja kami memasak makanan yang cukup untuk mengisi tenaga sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Kami fleksibel saja waktu itu, tidak terlalu menargetkan jam berapa kami harus melanjutkan perjalanan. Toh kita masih beberapa hari lagi disini. Setelah dirasa perut sudah kenyang dan hari sudah mulai siang kami membongkar tenda dan kembali packing. Jangan bosen-bosen bongkar pasang tenda ya, karena trek Semeru memang sangat jauh. Terutama saat summit attack, kita harus mengerahkan seluruh tenaga karena memang trek untuk menuju puncak adalah trek terberat di Semeru.

fullteam

                Ranukumbolo – Cemoro Kandang : 40 menit

Untuk sampai di Cemoro Kandang kita harus melewati sebuah tanjakan fenomal dan sangat terkenal di kalangan para pendaki. Ya, Tanjakan Cinta namanya. Kalian pasti tahu lah mitos yang berlaku di Tanjakan Cinta ini. Jika kita menaiki tanjakan tersebut dan tidak menoleh kebelakang sambil memikirkan orang yang kita sayangi maka orang tersebut akan benar-benar mencintai kita. Ya namanya juga mitos, bisa saja benar bisa saja salah. Tetapi semua teman satu rombongan saya tampak tidak ada yang menoleh ke belakang satupun hahaha. Terkadang diantara kami saling menggoda iman mereka dengan memanggil satu sama lain agar mau menengok ke belakang hahaha



Setelah melewati Tanjakan Cinta mata kami dimanjakan dengan hamparan sabana yang begitu luas. Oro-Oro Ombo namanya. Tapi sangat disayangkan bulan kami mendaki tidak sesuai dengan bulan dimana bunga verbena yang begitu ungu sedang bermekaran. Padahal sangat indah sekali jika bunga tersebut sedang mekar. Mungkin bulan juli bunga tersebut memang jatahnya sedang kering.




Oro-Oro Ombo

Cemoro Kandang berada di ujung Oro-Oro Ombo, mulai dari Cemoro Kandang inilah pepohonan mulai rimbun.



                Cemoro Kandang – Jambangan : 2 jam 30 menit

Mulai dari sini kita akan jarang menjumpai yang namanya dataran.  Mungkin hanya beberapa saja jumlahnya dan bisa dihitung menggunakan jari, walaupun tak sebanyak sebelumnya tapi tidak apa-apa lah, alon-alon asal kelakon. Kata orang jawa sih begitu, lhah kan saya orang jawa. Setelah puas menanjak ria kami sampai di pos Jambangan, mulai dari Jambangan ini Mahameru bisa kita lihat dengan jelas. Tampak sangat gagah berdiri, dan yang bikin kami agak kepikiran adalah “cara turunnya gimana dan berapa jam sampai atas sana?”


sebelum pos Jambangan


                Jambangan – Kalimati : 30 menit

Karena Mahameru mulai terlihat jelas itu tandanya Kalimati mulai dekat, tanpa basa basi kami mempercepat langkah kami agar bisa cepat beristirahat. Treknya mulai enak kok, mulai banyak dataran dan turunan. Ya itulah yang sering kami katakan sebuah bonus di sebuah pendakian.

Sampai di Kalimati suhu mulai berubah drastis, entah kenapa walaupun siang hari disana rasanya begitu dingin. Sangat berbeda dengan cuaca ketika kami belum sampai di Kalimati. Karena mulai sangat dingin kami mencari tempat yang lapang untuk dijadikan tempat ngecamp kami sebelum dini hari besok melakukan summit attack. Puas-puasin deh yang namanya makan dan tidur disini karena untuk menuju Mahameru diperlukan waktu lebih dari 6 jam perjalanan. Dan jika ingin sampai di atas sebelum matahari terbit itu tandanya kami harus memulai perjalanan sebelum hari berganti menjadi tanggal 24.



Di Kalimati ini juga terdapat sumber air, namanya Sumber Mani. Kenapa bisa dinamai seperti itu ya? Entahlah hahaha. Jaraknya lumayan jauh dari Kalimati, sekitar 1 jam bolak balik. Dan itu belum termasuk antri isi airnya. Tapi yang namanya air di gunung mesti seger ya, ada manis-manisnya gitu. Wkwk. Setelah kami rasa hari mulai petang kami harus tidur agar nanti bisa bangun dalam kondisi fresh untuk persiapan menuju Mahameru. 


sekedar bocoran untuk page selanjutnya







Penasaran kaaan? mau tau cerita selanjutnya? Sudah bisa dilihat di beranda setelah artikel ini.

Baca juga: Perjalanan Menggapai Puncak Mahameru


0 Response to "Bertahan Dalam Suhu Minus Ranu Kumbolo"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel