Pendakian Gunung Ungaran via Mawar (Edisi Badai Angin)



Akhirnya, setelah sekian lama tidak mendaki, pada bulan Juli 2019 saya berkesempatan untuk memulainya kembali. Walaupun kali ini saya mendaki di gunung yang tidak jauh dari rumah maupun kos, bahkan bisa dibilang cukup dekat. Gunung yang saya maksud adalah Gunung Ungaran. Masih asing dengan namanya? Memang, kalau dibandingkan dengan Merapi atau Merbabu, nama Ungaran tampaknya akan tertinggal jauh perihal ketenaran. Padahal, treknya sama sekali tak bisa diremehkan. Menurut saya, justru trek Gunung Ungaran lebih terjal jika dibandingkan dengan tetangganya.

Berlokasi di Kabupaten Semarang, Gunung Ungaran tampak menjulang jika dilihat dari kejauhan. Semarang adalah salah satu kota yang berada di daerah dataran rendah. Bisa ditarik kesimpulan bahwa walaupun Gunung Ungaran hanya memiliki ketinggian 2050 MDPL, kita harus start dari ketinggian yang tak jauh dari daerah dataran rendah. Bisa saja, waktu tempuh untuk sampai ke puncak malah lebih lama. Meski kurang terkenal, akhirnya saya memiliki keinginan untuk mencoba treknya.

Kali ini saya mendaki dengan teman kuliah saya, Hassan. Singkat cerita kami sepakat untuk mendaki tanggal 18 Juli, yang mana itu merupakan hari Kamis atau bisa dibilang malam jumat. Namun, kami berusaha untuk tidak bertemu malam di jalur pendakian. Hal tersebut karena kali ini merupakan pertama kalinya kami mendaki Gunung Ungaran. Selain itu, kami takut jika bertemu banyak percabangan.

Setelah semua peralatan kami siapkan, kami berangkat menuju basecamp. Kali ini kami berencana untu mendaki dari Basecamp Mawar, Jimbaran. Karena, basecamp inilah yang sangat sering dilalui oleh para pendaki. Setelah semua peralatan siap, kami pun membeli logistik sebelum sampai basecamp. Tidak sampai 1 jam, kami pun sampai. Lucunya, kami harus membayar sejumlah tiket masuk yang menurut saya kurang efektif. Karena, kami mengeluarkan biaya 3 kali hanya untuk melewati jalan menuju basecamp, untung saja murah. Namun, hal tersebut cukup menyebalkan bagi saya pribadi. Untuk di basecamp sendiri HTMnya adalah IDR 8.000 per orang dan IDR 3000 per motor.

It’s time to hike!




Menurut peta yang saya dapat, total waktu perjalanan untuk sampai puncak adalah 5 jam. Namun, beberapa pendaki dan blogger menyebut bahwa mereka hanya memakan waktu 3-4 jam saja untuk sampai puncak. Yang bener yang mana dong? Karena kami berdua jalannya seperti keong – tanpa racun – jadi kami menyimpulkan kalau itinerary yang cocok dengan kami adalah yang dari peta. Hahaha. Tapi ya sudah, lebih baik dibuktikan saja.

Basecamp – Pos 1 (30 menit)

Jalan dari BC menuju pos satu masih berupa tanah atau batu yang masih landai dan banyak ditemui tanjakan kecil. Saya yang sudah lama sekali tidak mendaki merasa sedikit engap, karena tubuh belum menyesuaikan diri dengan cepat. Jalan setapak terlihat sangat jelas dan kami menemukan petunjuk jalan yang cukup banyak di sepanjang jalur pendakian. Pos 1 berupa bangunan dari kayu atau berupa shelter yang memiliki atap. Jadi, jika saat hujan bisa digunakan untuk berteduh.

Pos 1 – Pos 2 (30 menit)


Pos 1


Menuju pos 2, banyak sekali bonus yang kami dapat. Di sepanjang jalur pendakian pun kami banyak menemukan pipa air yang menandakan Gunung ini memiliki sumber mata air. Jalan menuju pos 2 masih sangat jelas. Hingga akhirnya kami bertemu aliran air yang suaranya cukup keras seperti dipompa. Dan benar, beberapa saat setelah itu, kami bertemu dengan aliran sungai kecil yang airnya deras dan sangat bersih. Ini nih yang bikin pendaki senang saat mendaki. Kami pun berhenti untuk mengisi air ke dalam botol kosong yang sudah kami siapkan. Setelah itu, kami berjalan kembali, namun ternyata kami salah ambil jalur. Karena merasa aneh, kami balik arah menuju sungai, dan berusaha menemukan jalur yang asli. Namun, dari sunga untuk menuju pos 2 cukup dekat.

Pos 2 – Pos 3 (15 menit)


Pos 2 (Sebelah kiri shelter merupakan jalur asli pendakian)

Menurut peta, untuk sampai ke pos 3 hanya membutuhkan waktu tempuh 15-20 menit. Dan di sinilah kami lagi-lagi salah mengambil jalur. Jalur asli untuk menuju pos 3 adalah naik dari pos 2, namun kami malah memilih jalur kanan. Walaupun ada petunjuk, tapi sangat ambigu. Jalur asli tak terlihat dengan jelas dan jalur memutar yang justru terlihat jelas. Payahnya, kami tak menyadari hal tersebut.
Jalur yang kami lalui sangat landai, jarang sekali ada tanjakan. Sampai akhirnya saya mendengar suara genset di kejauhan. Saya mulai curiga saat itu kalau kami salah ambil jalur. Setelah berjalan terus, kami malah bertemu dengan Basecamp Sekendil. “Lho, gimana, sih?” pikir saya. Sudah lama berjalan kok malah ketemu BC lagi dan sejumlah motor warga. Saya bertanya dengan warga yang sedang memanen kopi, beliau berkata jalannya memang benar.  Jika diperhatikan jalan yang kami ambil memang benar, namun memutar sangat jauh. Hingga akhirnya kami bertemu kebun teh. Menurut beberapa orang yang upload video di Youtube, mereka juga melewati kebun teh terlebih dahulu. Wah, ternyata banyak orang yang memang salah sambil jalur.

Pos 3 – Pos 4 (75 menit)

Kami tidak menemukan pos 3 karena salah mengambil jalur. Selepas kebun teh, kami mulai masuk hutan kembali dan jalan mulai menanjak. Singkat cerita kami akhirnya menemukan sebuah pos yang saya kira pos 3, namun ternyata itu pos 4. Dan benar saja, ada jalan lain yang memang bisa digunakan pendaki dan percabangan tersebut bertemu di pos 4. Sungguh sialan, kami melakukan hal yang cukup menyita banyak waktu. Pantas, alokasi waktu di peta cukup lama, mungkin untuk mengantisipasi hal kami lalui.

Pos 4 – Puncak (2 jam)


Kabut tebal

Ungaran memperlihatkan trek sebenarnya setelah melewati pos 4. Jalanan sangat terjal, bebatuan tinggi yang memaksa lutut bertemu dengan dada. Saya curiga dengan banyaknya bonus trek tadi, pasti akhirnya kami akan “dihajar” habis-habisan dengan trek menuju puncak. Namun, kami bertemu malam sebelum sampai camp ground. Haduh, padahal bertemu malam sebenarnya ingin kami hindari.
Kabut tebal mulai turun, cahaya headlamp tak bisa menembus kabut malam itu, meski saya sudah memakai lampu “pembelah kabut”. Angin gunung malam itu sangat besar, kami yang mulai dihajar mentalnya akhirnya berhenti sejenak untuk berpikir: mencari tempat landai lalu camp, atau langsung “hajar” menuju puncak. Karena tak mau ambil resiko, kami camp di tanah yang cukup untuk 1 tenda saja. Padahal jarak menuju puncak hanya 30 menit lagi. Tapi ya sudah, kami akan melanjutkan perjalanan esok hari.
Semakin malam, angin justru semakin mengamuk. Saya dan Hassan hanya bisa memasak di tenda saja. Bahkan, angin tidak berhenti sampai pagi hari. “Gila ini, sudah 12 jam angin tak kunjung berhenti.” Pikir saya. Pagi pun hanya dipenuhi kabut tebal dan angin yang sangat kencang. Badai angin coy! Mau tidak mau, rencana kami untuk menyambangi puncak Gunung Ungaran harus kami urungkan. Dan mencoba lagi mendaki di kesempatan lain.

Camp ground – Basecamp (2 jam 45 menit)

Kami turun melalui jalur yang sesungguhnya, tanpa melalui kebun kopi maupun teh. Dan benar saja, jalannya jauh lebih singkat, padahal waktu tersebut sudah termasuk waktu saya yang terpaksa poop di gunung, hahahaha. Kami berdua hanya tertawa-tawa saja setelah menyadari dekatnya jalur asli. Alhamdulillah, kami sampai di BC dengan selamat.

Gunung Ungaran menjadi gunung yang penuh dengan pengalaman berharga. Gunung Ungaran mematahkan rekor saya yang sama sekali tak pernah poop di gunung, dan pertama kalinya mendaki tanpa menyambangi puncak. Namun, di luar semua itu, saya tidak kecewa karena tak bisa mencapai puncak. Karena, bukan gunung yang ditaklukkan melainkan ego kita sendiri.

Salam Hangat,
Angga Tannaya


Video pendakian saya menuju Gunung Ungaran bisa dilihat di tautan berikut


0 Response to "Pendakian Gunung Ungaran via Mawar (Edisi Badai Angin)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel